Di tengah kemajuan teknologi kesehatan, Eropa justru menghadapi tantangan serius akibat peningkatan kasus campak. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF pada tahun 2024, jumlah infeksi mencapai lebih dari 127 ribu kasus, dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 1997, dengan anak-anak di bawah usia lima tahun menjadi kelompok paling rentan. Selain itu, hampir setengah dari kasus memerlukan perawatan rumah sakit, menyebabkan sekitar 38 kematian. Para ahli menyoroti pentingnya imunisasi untuk mencegah penyebaran penyakit yang sangat menular ini.
Situasi ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya kesadaran akan pentingnya vaksinasi serta penyebaran informasi palsu terkait vaksin. Penelitian menunjukkan bahwa campak dapat dicegah hampir sepenuhnya melalui dua dosis vaksin, namun ketidaksiapan sistem kesehatan dan adanya mitos medis telah memperburuk situasi.
Data resmi menunjukkan bahwa Eropa menyumbang sepertiga dari total kasus campak di dunia pada tahun 2024. Situasi ini tidak hanya mencerminkan kegagalan dalam menjaga cakupan imunisasi tetapi juga menunjukkan kebutuhan mendesak akan pendekatan baru dalam edukasi publik tentang kesehatan.
Penyakit campak, yang ditularkan melalui droplet pernapasan dan aerosol, memiliki tingkat kontagiositas yang lebih tinggi dibandingkan penyakit lain seperti Covid-19. Risiko kematian meskipun rendah di negara maju, masih cukup signifikan bagi mereka yang tidak divaksinasi.
Dalam laporan terbaru, Direktur Regional UNICEF untuk Eropa dan Asia Tengah, Regina De Dominicis, menegaskan perlunya tindakan pemerintah yang lebih agresif. "Kita membutuhkan investasi berkelanjutan pada tenaga kesehatan guna memastikan semua anak mendapatkan akses ke vaksin," katanya.
Sejarah mencatat bahwa salah satu penyebab utama penurunan tingkat vaksinasi adalah penyebaran informasi salah. Contoh nyata adalah kasus mantan dokter Andrew Wakefield di Inggris, yang pada tahun 2002 mengklaim hubungan antara vaksin MMR (campak, gondongan, dan rubella) dengan autisme. Meskipun klaim tersebut kemudian ditarik kembali, dampaknya masih dirasakan hingga saat ini.
Penyebaran informasi yang salah tersebut membuat banyak orang ragu untuk memberikan vaksin kepada anak-anak mereka. Akibatnya, populasi yang tidak divaksinasi meningkat, menciptakan celah bagi virus campak untuk menyebar luas.
Ancaman campak di Eropa bukan hanya masalah lokal, tetapi juga berpotensi menjadi ancaman global. Dengan mobilitas internasional yang tinggi, risiko penularan lintas batas semakin besar. Oleh karena itu, langkah-langkah koordinasi antarnegara menjadi sangat penting untuk mengendalikan wabah ini.
Melalui upaya kolektif yang melibatkan pemerintah, organisasi kesehatan, dan masyarakat umum, harapannya tingkat vaksinasi dapat ditingkatkan kembali. Pendidikan kesehatan yang tepat serta eliminasi informasi palsu menjadi kunci dalam memerangi pandemi campak ini. Hanya dengan cara tersebut, kita bisa memastikan generasi masa depan hidup dalam lingkungan yang lebih aman dan bebas dari penyakit mematikan ini.