Gaya Hidup
Tiga Tokoh Istana yang Bebas dari Kewajiban Paspor Internasional
2025-03-31

Pemimpin tertinggi di dua negara besar dunia memiliki keistimewaan unik saat melakukan perjalanan keluar negeri. Di bawah sistem protokol internasional, mereka tidak memerlukan dokumen paspor seperti warga biasa. Sebagai gantinya, ada mekanisme khusus yang memastikan perjalanan mereka lancar tanpa hambatan. Dalam hal ini, Raja Charles III dari Inggris dan Kaisar Naruhito serta Permaisuri Masako dari Jepang menjadi simbol kebijakan luar biasa tersebut.

Sejarah menunjukkan bahwa tradisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pemimpin kerajaan Inggris sebelumnya, termasuk Ratu Elizabeth II, juga menikmati hak istimewa yang sama. Mereka mengandalkan surat resmi yang dikeluarkan atas nama pribadi mereka sebagai pengganti paspor. Surat ini secara formal meminta negara tujuan untuk memberikan perlindungan dan kemudahan bagi pemegangnya. Sementara itu, di Jepang, pendekatan serupa diterapkan dengan dokumen kementerian yang menyatakan ketidaksesuaian etika jika Kaisar harus menggunakan paspor reguler.

Dalam praktiknya, anggota lain keluarga kerajaan tetap tunduk pada aturan standar. Misalnya, Permaisuri Camilla dari Inggris harus memiliki paspor diplomatik untuk perjalanannya. Begitu pula dengan anggota keluarga kekaisaran Jepang, seperti Putra Mahkota dan putri-putri mereka. Namun, status Kaisar dan Permaisuri Jepang, serta Raja Inggris, menjadikan mereka terbebas dari prosedur imigrasi konvensional. Hal ini mencerminkan nilai hormat dan martabat tinggi dalam hubungan diplomatik antarnegara, sekaligus menunjukkan pentingnya protokol yang mendukung kedaulatan kepemimpinan tertinggi.

Sistem ini tidak hanya merefleksikan hierarki politik dan sosial, tetapi juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi damai antara bangsa-bangsa. Keberadaan dokumen alternatif membuktikan bahwa perbedaan budaya dan tradisi dapat diakomodasi dengan cara yang saling menghormati. Ini menunjukkan bahwa meskipun zaman telah berubah, beberapa aspek klasik diplomasi tetap relevan dan memberikan makna pada nilai-nilai kesopanan lintas batas nasional.

More Stories
see more