Dalam karier lebih dari dua dekade sebagai perawat hospice, Suzanne B. O’Brien dari Doulagivers Institute mengungkapkan pengalaman mendalamnya dalam mendengarkan pengakuan para pasien di akhir hayat mereka. Menurutnya, rasa takut terhadap kematian sering kali tidak menjadi kekhawatiran utama dibandingkan dengan penyesalan yang menghantui banyak orang. Melalui cerita-cerita pasiennya, Suzanne menyoroti empat penyesalan umum yang dirasakan oleh individu ketika menghadapi ajal. Mulai dari kehilangan tujuan hidup hingga kurangnya cinta dan penerimaan terhadap diri sendiri, setiap penyesalan ini memberikan pelajaran berharga bagi siapa saja yang ingin menjalani hidup secara lebih bermakna.
Berkat pengalamannya yang luas, Suzanne memahami bahwa penolakan terhadap realitas kematian dapat menyebabkan seseorang mengabaikan aspek penting dalam hidupnya. Salah satu penyesalan besar yang kerap ditemukan adalah ketidakmampuan untuk mengikuti panggilan hati dan menemukan tujuan hidup yang sejati. Banyak individu membuat keputusan berdasarkan tekanan eksternal seperti keluarga atau masyarakat, sehingga mengorbankan kebahagiaan pribadi demi stabilitas materi atau ekspektasi sosial.
Salah satu contoh nyata yang Suzanne bagikan adalah tentang seorang pria sukses yang memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Namun, di ujung hidupnya, dia menyadari bahwa kekayaan dan status tidak cukup tanpa hubungan yang dalam dengan orang lain. Dia menyesali pemutusan hubungan dengan keluarga dan teman-teman karena masalah kecil yang pada akhirnya merenggut kesempatan untuk merasakan kasih sayang yang sejati.
Tak hanya itu, banyak pasien juga menyesali keteguhan mereka dalam melindungi diri dari rasa sakit dengan membangun benteng emosional. Hal ini membuat mereka sulit untuk menerima cinta dari orang lain. Suzanne menjelaskan bahwa meskipun pendekatan defensif ini mungkin tampak aman dalam jangka pendek, namun justru membatasi kemampuan mereka untuk membuka diri dan menciptakan ikatan yang mendalam.
Selain itu, kurangnya empati terhadap diri sendiri juga menjadi tema yang sering muncul. Pasien-pasien Suzanne sering kali merasa bersalah atas keputusan masa lalu, tetapi ketika ditinjau kembali, mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan yang terbaik dengan apa yang mereka miliki saat itu. Pelajaran ini menekankan pentingnya pengertian dan belas kasih terhadap diri sendiri sebagai cara untuk menemukan kedamaian dengan penyesalan masa lalu.
Melalui pengamatan dan pengalaman Suzanne, jelas bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian material, tetapi juga tentang bagaimana kita menghubungkan diri dengan orang lain dan dengan diri sendiri. Penting bagi kita untuk belajar dari cerita-cerita ini agar dapat menjalani hidup dengan lebih penuh kesadaran, keberanian, dan cinta. Dengan demikian, kita dapat menghindari penyesalan yang sama ketika giliran kita tiba untuk menghadapi akhir perjalanan hidup.