Pada masa sejarah modern Tiongkok, sosok Oei Hui-lan, seorang perempuan Indonesia kelahiran Semarang, menempati posisi penting sebagai istri pejabat tinggi negara. Lahir dari keluarga pengusaha gula terkaya di era kolonial Belanda, Hui-lan tumbuh dalam kemewahan luar biasa. Ayahnya, Oei Tiong Ham, yang dikenal sebagai "Raja Gula Dunia," memberikan segala fasilitas kepada anaknya, termasuk properti luas, pesta mewah, dan gaya hidup tanpa batas. Kehidupannya berubah ketika ia bertemu Wellington Koo, seorang diplomat Tiongkok yang menjadi suaminya pada tahun 1921. Dengan naiknya jabatan Koo hingga menjadi pelaksana tugas Presiden Republik China, Hui-lan secara resmi menjadi ibu negara. Setelah pensiun dari politik, hubungan mereka berakhir dengan perceraian pada tahun 1958. Hui-lan akhirnya menetap di New York, namun tetap menjalin hubungan dengan Indonesia melalui beberapa usaha bisnis yang sayangnya tidak berhasil.
Berawal di kota Semarang pada tahun 1889, Oei Hui-lan dibesarkan dalam kehidupan yang dipenuhi kemewahan di tengah keluarga taipan. Rumahnya yang mencakup area seluas 80 hektar dilengkapi vila pribadi dan paviliun eksklusif. Di bawah perlindungan sang ayah, ia tidak pernah kekurangan apa pun—dari pakaian mewah hingga pesta ulang tahun spektakuler. Pada tahun-tahun awal abad ke-20, setelah pindah ke London bersama ibunya, ia mulai memperluas jaringan pertemanannya, bahkan sampai mengenal anggota kerajaan Inggris dan para pemimpin dunia lainnya. Pertemuan inilah yang membawa dirinya pada Wellington Koo, seorang figur sentral dalam diplomasi Tiongkok pada saat itu. Koo, yang memiliki peran besar dalam pembentukan Liga Bangsa-Bangsa, menikahi Hui-lan di Brussel pada tahun 1921. Dalam perjalanannya mendampingi suaminya, ia menjadi ikon wanita kuat yang mendukung Tiongkok di kancah internasional, hingga akhirnya pensiun dari kehidupan politik dan berfokus pada keluarga serta bisnis.
Dari sudut pandang seorang jurnalis, cerita Oei Hui-lan memberikan inspirasi tentang bagaimana seseorang dapat melewati batas geografis dan budaya untuk mencapai prestasi global. Meskipun lahir di lingkungan yang sangat berbeda dari Tiongkok, Hui-lan berhasil menyesuaikan diri dan berkontribusi signifikan dalam sejarah modern Tiongkok. Bagi pembaca, kisah ini juga menunjukkan pentingnya adaptasi, keberanian, dan kesediaan untuk belajar dari pengalaman baru demi mencapai tujuan hidup yang lebih besar.