Momen Lebaran sering kali menjadi waktu untuk bersilaturahmi, namun bagi sebagian orang, ini bisa memicu tekanan batin. Psikolog dari IPB University, Mia, menjelaskan bahwa pergantian rutinitas serta interaksi sosial yang intens dapat berdampak pada kesejahteraan mental seseorang. Perubahan kebiasaan harian dan ekspektasi masyarakat sering kali menambah beban emosional, terutama ketika individu harus terus-menerus berhadapan dengan banyak orang.
Pentingnya pengaturan batasan psikologis menjadi fokus dalam mengatasi tekanan tersebut. Menurut Mia, individu perlu menyadari batas diri mereka agar tidak merasa lelah secara mental. Hal ini dapat dicapai melalui pendekatan seperti memilih percakapan yang ingin diikuti atau memberikan ruang untuk diri sendiri tanpa rasa bersalah. "Menarik diri sesaat bukan berarti mengabaikan orang lain," ungkap Mia, yang menyarankan strategi diplomasi dalam menjawab pertanyaan pribadi dengan cara yang santun namun tetap menjaga privasi.
Menyeimbangkan waktu antara berkumpul dengan keluarga dan waktu istirahat pribadi sangat diperlukan selama Lebaran. Mia merekomendasikan beberapa aktivitas reflektif seperti bangun pagi untuk menikmati ketenangan atau berjalan-jalan sebagai bentuk penyegaran jiwa. Bagi mereka yang merayakan Lebaran sendirian, penting untuk menjalin hubungan emosional melalui komunikasi digital dengan orang-orang terdekat. Lebaran bukanlah ajang untuk menunjukkan kesuksesan semata, melainkan momen untuk merenung dan memberi ruang bagi diri sendiri sebagai bentuk kekuatan emosional yang dewasa.
Menghargai kesehatan mental selama Lebaran adalah langkah menuju kebahagiaan yang sejati. Dengan memahami dan menghormati batasan diri, setiap individu dapat menjalani momen spesial ini tanpa harus terbebani oleh ekspektasi luar. Ini adalah peluang untuk belajar menghargai diri sendiri dan menciptakan keseimbangan antara kehidupan sosial dan kesejahteraan personal.