Di tengah perang yang tak kunjung usai, sejumlah negara mayoritas Islam tetap memperingati hari raya Idulfitri dengan penuh harapan. Meskipun suasana kegembiraan sulit terwujud, umat Muslim di berbagai daerah konflik menunjukkan keteguhan dalam menghadapi tantangan hidup. Salah satu contohnya adalah Palestina, yang kembali dilanda serangan menjelang hari suci tersebut.
Situasi di wilayah Gaza semakin memburuk akibat eskalasi konflik antara Israel dan kelompok Hamas. Setelah gencatan senjata yang diberlakukan pada akhir tahun 2024, warga Gaza harus kembali mencari perlindungan di pengungsian selama bulan Ramadhan dan Idulfitri. Serangan militer Israel ke wilayah selatan Gaza telah menewaskan puluhan orang, sementara peringatan keras dari Presiden AS Donald Trump terhadap Houthi di Yaman menambah tekanan global. Philippe Lazzarini dari UNRWA menyebut situasi ini sebagai salah satu masa tergelap bagi kemanusiaan.
Berbeda dengan Palestina, Libya menghadapi konflik internal yang sudah berlangsung lama. Negara di Afrika Utara ini masih terpecah antara dua otoritas yang saling berkompetisi untuk mendapatkan legitimasi dan kendali politik. Ketidakstabilan sosial, ekonomi, dan politik membuat perayaan Idulfitri terasa lebih suram bagi masyarakat sipil. Sementara itu, di Yaman, perang saudara yang berkepanjangan terus melukai jutaan jiwa. Dewan Keamanan PBB baru-baru ini mengadakan diskusi untuk mencari solusi perdamaian, namun upaya tersebut belum memberikan hasil konkret hingga Februari 2025.
Meskipun berada di bawah bayang-bayang perang, para pejuang damai di setiap negara tersebut terus berusaha membawa harapan kepada generasi mendatang. Momen Idulfitri menjadi simbol kekuatan dan solidaritas, membuktikan bahwa nilai-nilai kasih sayang dan kebersamaan dapat bertahan meski dalam kondisi yang sangat sulit. Dengan komitmen bersama, dunia internasional diharapkan bisa berkontribusi lebih besar dalam menciptakan perdamaian yang abadi.