Peningkatan harga emas menjadi sorotan utama di pasar keuangan global. Setelah pengumuman pemberlakuan tarif resiprokal oleh Washington terhadap lebih dari 180 negara, harga logam mulia ini melonjak signifikan. Di Indonesia, harga emas Antam naik tajam hingga Rp17.000 per gramnya, mencapai angka Rp1.836.000 per gram. Sementara itu, harga jual kembali (buyback) juga mengalami peningkatan serupa. Secara internasional, harga emas dunia mencatatkan rekor tertinggi dengan perdagangan mencapai USD3.156,75 per ounce. Fenomena ini didorong oleh respons investor yang beralih ke emas sebagai safe haven akibat ketidakpastian ekonomi.
Kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat telah menimbulkan gelombang besar dalam perdagangan global. Pengenaan tarif resiprokal berdampak langsung pada harga emas, baik di pasar domestik maupun internasional. Di Tanah Air, harga emas Antam meningkat secara substansial, mencerminkan respons pasar terhadap ketegangan ekonomi global. Selain itu, harga buyback emas di dalam negeri juga mengalami kenaikan yang sepadan, memberikan manfaat bagi para pemilik emas yang ingin menjual kembali aset mereka.
Secara rinci, harga emas untuk berbagai pecahan di Indonesia mengalami kenaikan signifikan. Misalnya, emas ukuran 0,5 gram sekarang dijual dengan harga Rp968.000, sementara ukuran 1 gram dipatok pada Rp1.836.000. Peningkatan ini tidak hanya terbatas pada ukuran kecil, tetapi juga mencakup ukuran yang lebih besar seperti 10 gram hingga 1.000 gram. Fenomena ini mencerminkan bagaimana perubahan geopolitik dapat mempengaruhi dinamika pasar keuangan dan komoditas. Investor lokal pun semakin antusias untuk menambah portofolio emas mereka sebagai bentuk perlindungan nilai aset.
Pada tingkat global, lonjakan harga emas mencapai level tertinggi sepanjang sejarah setelah kebijakan tarif resiprokal diumumkan. Perdagangan internasional mencatat harga emas mencapai USD3.156,75 per ounce, yang terjadi pada pagi hari waktu Singapura. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi. Para analis menyatakan bahwa tren ini kemungkinan akan berlanjut jika ketegangan perdagangan global tidak terselesaikan.
Situasi ini menciptakan suasana panik di kalangan investor di seluruh dunia, yang kemudian mendorong mereka untuk mencari perlindungan di logam mulia. Dengan adanya kekhawatiran terhadap kondisi pasar global, emas menjadi pilihan utama karena nilainya yang cenderung stabil bahkan di saat krisis. Respons pasar ini juga mencerminkan pentingnya diversifikasi investasi agar dapat melindungi diri dari volatilitas ekonomi global. Dalam jangka panjang, tren ini dapat memperkuat posisi emas sebagai salah satu instrumen investasi terpercaya di masa depan.