Pengumuman kebijakan tarif baru oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menimbulkan reaksi negatif di pasar Asia. Kebijakan ini, yang mencakup lebih dari 180 negara termasuk Uni Eropa, mengenalkan tarif impor resiprokal yang berdampak besar pada perdagangan global. Beberapa pemimpin negara juga memberikan tanggapan terkait pengaruh potensial dari kebijakan ini.
Secara umum, kebijakan ini menunjukkan bahwa tarif baru yang diberlakukan tidak sepenuhnya simetris dengan tarif yang dikenakan oleh negara lain kepada produk-produk AS. Selain itu, beberapa negara seperti Korea Selatan dan Australia telah menyuarakan keprihatinan mereka serta merencanakan langkah-langkah mitigasi untuk memitigasi dampak negatif dari tarif tersebut.
Pasar saham di Asia mengalami penurunan signifikan setelah pengumuman kebijakan tarif resiprokal. Indeks utama di Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong melihat kerugian yang cukup besar, dengan Nikkei 225 turun hingga lebih dari 4% pada pembukaan. Hal ini mencerminkan ketakutan investor akan konsekuensi ekonomi dari kebijakan perdagangan baru AS.
Kerugian pasar saham di Asia adalah indikator kuat dari kekhawatiran akan ketidakpastian perdagangan internasional. Penurunan tajam pada indeks acuan Nikkei 225 dan Topix di Jepang mencerminkan sentimen negatif investor. Sementara itu, indeks Kospi di Korea Selatan juga mengalami penurunan signifikan, meskipun sedikit pulih seiring waktu. Di Hong Kong, kontrak berjangka untuk indeks Hang Seng menunjukkan penurunan yang lebih lemah dibandingkan dengan hari sebelumnya. Harga emas mencapai level tertinggi sepanjang masa, sebagai refleksi permintaan yang meningkat untuk aset safe-haven selama periode volatilitas pasar.
Banyak negara bereaksi terhadap kebijakan tarif baru AS dengan cara yang berbeda-beda. Korea Selatan dan Australia menjadi dua contoh penting dalam hal ini. Pemerintah Korea Selatan mengambil langkah-langkah darurat untuk mendukung industri yang mungkin terkena dampak buruk dari tarif tersebut. Langkah ini mencakup analisis mendalam atas detail kebijakan dan upaya bernegosiasi dengan pihak AS.
Pada sisi lain, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa keputusan Trump tidak sesuai dengan hubungan persahabatan antara kedua negara. Meskipun demikian, Australia tampak enggan menjawab dengan tarif balasan terhadap produk-produk AS. Tanggapan dari Korea Selatan dan Australia menunjukkan strategi yang berbeda dalam menghadapi tantangan perdagangan global akibat kebijakan Trump. Dengan adanya ancaman perlambatan ekonomi global, semua pihak terus mencari solusi diplomatis untuk meredam potensi konflik dagang yang lebih luas.