Di tengah persaingan ketat dalam industri baja global, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP) menyoroti tantangan utama yang dihadapi oleh produsen baja nasional. Perusahaan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara harga kompetitif, kualitas konstruksi, serta keberlanjutan ekosistem industri baja Indonesia. GRP juga memperhatikan peningkatan volume impor baja yang signifikan dari negara-negara seperti Tiongkok, yang berdampak pada pertumbuhan pasar domestik. Untuk menjaga posisinya sebagai pemain utama sekaligus mendukung visi pemerintah Indonesia menuju Net Zero Emissions (NZE), GRP telah meluncurkan strategi transformasi jangka panjang dengan fokus pada teknologi rendah karbon.
Berdasarkan data terbaru dari Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA), permintaan baja nasional terus meningkat secara signifikan, mencapai 17,4 juta ton pada tahun 2023 dan diproyeksikan naik menjadi 18,3 juta ton pada tahun depan. Namun, pertumbuhan ini disertai dengan lonjakan impor produk baja, terutama dari Tiongkok. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa impor besi dan baja mencapai 13,8 juta ton pada tahun 2023. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak negatif terhadap kualitas konstruksi dan kedaulatan manufaktur nasional jika produk impor tidak memenuhi standar keamanan dan keberlanjutan.
Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi, Fedaus, menyatakan bahwa tantangan industri saat ini tidak hanya berkaitan dengan harga tetapi juga melibatkan aspek-aspek lain seperti kualitas bahan dan keselamatan lingkungan. "Produk baja murah yang tidak sesuai standar dapat membahayakan masa depan pembangunan kita," katanya. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan media sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas dan kompetisi yang sehat dalam industri baja.
Dalam upaya memastikan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan, GRP telah mengambil langkah-langkah inovatif melalui proyek transformasi multi-tahap. Salah satu langkah tersebut adalah transisi total ke Electric Arc Furnace (EAF) 100%, yang memungkinkan penggunaan teknologi hemat energi dan rendah emisi. Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan material daur ulang scrap baja guna mendukung ekonomi sirkular dan mengurangi ketergantungan pada sumber daya primer. Penghentian operasi blast furnace yang belum pernah digunakan menjadi bagian dari rencana besar ini.
GRP juga aktif mengeksplorasi potensi sumber energi terbarukan untuk menurunkan jejak karbon secara keseluruhan. Dengan pendekatan ini, perusahaan bertujuan menjadi pemimpin dalam produksi baja berkelanjutan di Asia Tenggara. "Inisiatif ini bukan sekadar modernisasi teknologi, tapi perwujudan komitmen kami terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan industri," ungkap Fedaus.
Melalui berbagai strategi inovatif ini, GRP menunjukkan tekadnya untuk tidak hanya menjadi peserta tangguh dalam pasar baja domestik maupun internasional, tetapi juga pemain yang bertanggung jawab atas masa depan dunia. Transformasi yang dilakukan oleh GRP diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi pengembangan industri baja nasional dan pencapaian target NZE pemerintah Indonesia.