Pertemuan yang tidak terduga membawa kembali ingatan tentang persahabatan dan perpecahan. Yayat, yang tenggelam dalam percakapan menyenangkan dengan seorang wanita cantik bernama Nikita, malah lupa untuk menanyakan namanya. Agus mencoba mengingatkannya, namun kesempatan itu sudah lewat begitu saja. Kehilangan momen ini membuat Yayat merasa kecewa karena telah berkali-kali bertemu tanpa mengetahui identitasnya.
Di sisi lain, suasana tegang mulai memuncak di markas kelompok Arogan. Ketika Bima, Cano, dan Damon mendekati Arogan dengan hasil iuran dari pedagang kaki lima, mereka dihadapkan pada rencana besar yang lebih serius. Arogan menolak usulan perdamaian yang disampaikan oleh Didu, Agus, dan teman-temannya. Sebaliknya, ia meminta agar konflik diselesaikan melalui cara yang lebih tegas. Sementara itu, Didu merasa bersalah atas masalah yang terjadi dan berharap perdamaian dapat dicapai meskipun ia tetap ingin menjaga harga dirinya.
Di sebuah warung kecil milik Bubun, Murad dan Ujang mencari kabar terbaru tentang upaya rekonsiliasi antara pihak-pihak yang berseteru. Meskipun situasi masih belum jelas, Murad tetap optimistis bahwa perdamaian dapat tercapai. Ia juga menyoroti perubahan signifikan dalam karakter Cecep, yang dulunya dikenal sebagai sosok kuat. Melalui cerita ini, kita diajak untuk merenungkan pentingnya komunikasi dan pengendalian emosi dalam menyelesaikan konflik. Apakah perdamaian akan terwujud, ataukah pertarungan akan berlanjut? Tunggu kelanjutan ceritanya!
Kehidupan sering kali dipenuhi oleh tantangan dan pilihan sulit. Namun, di balik setiap konflik terdapat peluang untuk belajar dan tumbuh menjadi individu yang lebih baik. Kesadaran akan pentingnya perdamaian dan penghargaan terhadap nilai-nilai kebersamaan menjadi pesan utama dari kisah ini.